Pada awal tahun ini saya melakukan perjalanan berkeliling Pulau Jawa dengan menggunakan kereta api. By the way, kenapa tiba tiba saya berpikiran untuk melakukan perjalanan ini? Alasannya adalah karena saya orang Jawa jadi saya ingin melihat lebih dekat seperti apa itu Jawa. Lalu kenapa kereta api? Begini ceritanya. Pernah dengar Ramalan Jayabaya? Ramalan tentang datangnya hari akhir menurut raja kerajaan Kediri yg bernama Jayabaya. Salah dua isinya adalah.
- Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
- Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi.
Kedua butir diatas mungkin akan merujuk pada suatu benda bukan? Kereta api dan rel kereta api adalah jawabannya. Alasan berikutnya adalah karena saya sangat senang dengan kereta api. Jadi tanpa alasan pertama pun saya juga akan tetap jalan jalan naik kereta, hahahahaha.

Perjalanan kali ini saya mulai dari kota Bandung. Di ibu kota Jawa Barat ini terdapat kawasan Saritem. What? Just ignore that. Di kota ini terdapat kantor pusat kereta api Indonesia. Kenapa lokasinya di Bandung? Hmmmm, saya kurang tau pasti, tetapi kalau di Jati Asih itu akan sangat merepotkan karena jalanannya kecil dan sering banjir. Oke kembali ke topic. Sebenarnya saya memilih Bandung sebagai tempat pemberangkatan karena kereta api siang tujuan Surabaya hanya terdapat di kota ini sedangkan kalau dari Jakarta hanya terdapat kereta malam saja.
Saya memulai perjalanan ini dari kos kosan saya di kawasan Kebon Bibit dengan menaiki angkot Lembang – Stasiun Hall dengan tarif 2500 rupiah.

Setelah sekitar 10 menit menyusuri jalanan Bandung di pagi hari akhirnya angkot pun tiba di tujuan yaitu Stasiun Besar Bandung. Stasiun pagi itu cukup ramai dengan kedatangan para penumpang kereta api.


Karena tiket sudah di tangan maka saya akhirnya masuk ke dalam stasiun. Karena belum sarapan, saya kemudian menuju ke gerai makanan cepat saji didalam stasiun untuk sarapan

Setelah selesai makan saya jalan jalan dulu keliling stasiun. Pagi itu suasana sangat sejuk dan enak buat foto foto. O iya, pagi itu saya akan menaiki kereta api Argo Wilis dari Bandung menuju Surabaya. Karena masih sekitar setengah jam menunggu, saya putuskan untuk foto foto dulu.

Pagi itu stasiun Bandung sangat ramai dengan kedatangan kereta api yang salah satunya adalah kedatangan kereta api ekspres malam Lodaya dari Solo. Setelah foto foto ternyata di jalur satu rangkaian kereta api Argo Wilis sudah disiapkan.

Karena sudah mendekati pukul 7 pagi maka saya pun menaiki kereta. Kereta api Argo Wilis merupakan kereta api kelas eksekutif yang melayani rute Bandung – Surabaya PP. kereta api ini mengambil nama dari sebuah gunung di wilayah Jawa Timur yaitu Gunung Wilis. Rute Bandung – Surabaya akan ditempuh dalam waktu 12 jam. Lama ya? Tapi yg penting enjoy. Sebagai kereta eksekutif, KA ini memiliki berbagai fasilitas di dalam gerbongnya, antara lain adalah tv LCD, koran, dan bantal. AC di kereta ini juga cukup dingin. Selama perjalanan kita juga dapat memilih makanan yang tercantum dalam menu.

Tepat pukul 7 pagi kereta api diberangkatkan dari Stasiun Bandung menuju stasiun akhir Surabaya Gubeng.

Baru berjalan sebentar kereta kembali berhenti di stasiun Kiaracondong untuk memberikan jalan bagi kereta api dari arah berlawanan. Saat itu Argo Wilis memberikan jalan kepada KA Turangga dari Surabaya. Setelah berangkat kembali dari Kiaracondong, pemandangan hijaunya pegunungan Priangan Timur terpampang dengan jelas. Sungguh Indonesia sangatlah indah

Pemandangan semakin hijau dan makin bagus saat kereta api memasuki wilayah Leles – Garut. Di wilayah ini jalur kereta api akan turun dari atas gunung ke dataran rendah wilayah Garut ini

Kereta api berjalan dari atas gunung menuju dataran rendah di bawahnya. Untuk jelasnya seberapa tinggi turunan yang dilalui gambar di atas tulisan ini adalah gambar diambil dari kereta api ketika masih di atas langit Leles sedangkan gambar di bawah tulisan ini adalah gambar ketika kereta api sudah “mendarat” dan terlihat gambar gunung dimana sebelumnya kereta api melintas.

Setelah melintasi leles kereta api berhenti di stasiun Cipeundeuy. Di stasiun ini kereta api dari dan menuju Bandung wajib berhenti untuk menjalani pemeriksaan rem. Maklum saja karena medan yg berat naik dan turun gunung sehingga kondisi rem harus di cek. Kalau sampai rem blong bisa celaka.

Setelah cek rem, kereta kembali berangkat dan kembali berhenti di Stasiun Tasikmalaya untuk menaikkan penumpang.

Pemberhentian berikutnya setelah Stasiun Tasikmalaya adalah Stasiun Banjar. Di stasiun ini terjadi pergantian masinis untuk kereta api jarak jauh dari bandung ke arah Timur.

Setelah melewati Banjar, kereta api Argo Wilis mulai memasuki dataran rendah. Pemandangan berganti dari pegunungan yang indah menjadi hamparan sawah hijau yang luas yang juga sangat menyejukkan mata.

Tanpa terasa kereta api akan memasuki Stasiun Kroya. Di stasiun ini terdapat pertemuan rel kereta api Jalur Utara (Kroya – Purwokerto – Cirebon) dengan Jalur Selatan (Kroya – Banjar – Bandung).

Setelah berhenti sekitar 5 menit, kereta kembali melaju. Melintasi wilayah Banyumas dengan kecepatan tinggi. Kurang lebih satu jam kemudian kereta api memasuki stasiun Kutoarjo. Di stasiun ini, Argo Wilis yang saya naiki bertemu dengan Argo Wilis dari Surabaya. Yang menarik adalah ketika akan memasuki Stasiun Kutoarjo. Di salah satu dinding terpampang tulisan PADAMU NEGERI JIWA RAGA KAMI. Sungguh menggetarkan jiwa.


Sekitar satu jam setelah berangkat dari kutoarjo, kereta api memasuki kota Jogjakarta. Kota yang terkenal akan wilayah Malioboro-nya ini. Kali ini saya hanya bisa memotret jalan yg tersohor itu dari dalam kereta. Di stasiun ini saya juga melihat kereta Prambanan Ekspress, kereta api komuter tujuan Solo – Jogja – Kutoarjo yang sedang parkir di dipo lokomotif Yogyakarta

Setelah berangkat dari Jogja, maka kereta memasuki wilayah yang sangat sakral dan memiliki kekuatan emosional yang sangat kuat dengan saya. Kereta api memasuki kota KLATEN. Saat memasuki Stasiun Klaten, kereta melaju secepat kilat sehingga ketika saya ingin mengambil foto gambar yang terambil sungguh menakjubkan. Masterpiece.

30 menit kemudian kereta api mulai memasuki Stasiun Solo Balapan. Di stasiun ini terdapat percabangan jalur kereta api menuju lintas utara (Solo – Semarang) dan lintas selatan (Solo – Madiun – Surabaya).

Pemberhentian berikutnya setelah Solo adalah Madiun. Di kota ini terdapat perusahaan INKA, perusahaan pembuat dan perakit kereta api milik Republik Indonesia. Lokasinya persis di samping Stasiun Madiun. Di stasiun ini saya melihat lokomotif BB 301, lokomotif diesel generasi awal yg dimiliki Indonesia. Lokomotif ini sudah dicat seperti warna awalnya ketika mulai bertugas, yaitu kuning hijau. Saya juga sempat memotret INKA dan GE Lokindo produsen kereta dan lokomotif milik Indonesia yg bekerja sama dengan General Electric dari negeri Paman Sam.

Satu jam setelah melewati Madiun, kereta api memasuki Stasiun Kertosono. Di stasiun ini kereta yang saya naiki bertemu dengan kereta api Bangunkarta jurusan Jombang – Pasar Senen. Di stasiun ini juga terdapat percabangan rel kereta api lintas tengah Jawa Timur (Kertosono – Jombang – Mojokerto – Surabaya) dan Jalur Selatan Jawa Timur (Kertosono – Blitar – Malang – Surabaya).

Setelah melewati Kertosono, kereta api Argo Wilis yang saya tumpangi kembali melanjutkan perjalanan menuju Surabaya, dan sempat beberapa kali berhenti untuk menurunkan penumpang diantaranya di Stasiun Jombang dan Stasiun Mojokerto. Di Stasiun Mojokerto bertemu dengan kereta api ekspress malam Bima dari Surabaya tujuan Gambir.

Akhirnya setelah 12 jam perjalanan yang cukup nyaman dan lancar, saya pun tiba di Stasiun Surabaya Gubeng.

Bersambuuuuuung…………..